Headline Hari ini

Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

15 Tahun Dipasung di Pohon Tepi Jalan

Sudah 15 tahun ini Misyanto, 35, tak bisa hidup bebas. Warga Dusun Opelan, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa Situbondo ini dipasung di sebatang pohon mangga di pinggir jalan desanya oleh keluarganya sendiri.

Ia mengidap gangguan kejiwaan setelah mengalami prahara rumah tangga, bercerai dengan istri yang sangat dicintainya. Sejak itu ia mulai menunjukkan kelainan perilaku, seperti masuk rumah orang tanpa ijin dan mengganggu wanita yang dijumpainya.

Pihak keluarganya sudah mengupayakan agar ia kembali hidup normal, namun karena kondisi kejiwaannya tak kunjung stabil, termasuk ketiadaan biaya untuk menyembuhkannya, akhirnya mereka memutuskan untuk memasungnya di bawah pohon mangga.

Pria malang yang pernah menjalani profesi sebagai pedagang hewan ternak itu pun harus menjalani kehidupannya sehari-hari di tempat yang tak semestinya. Panasnya terik matahari dan guyuran hujan sepanjang 15 tahun terakhir ini adalah temannya.

Karena kedua orang tuanya sudah meninggal, ia dirawat oleh saudara-saudaranya. (mp2)

Disarikan dari Jawa Pos edisi 9 Desember 2012.

READ MORE - 15 Tahun Dipasung di Pohon Tepi Jalan

Briptu Norman Dipecat dengan Tidak Hormat

Sebuah antiklimaks dari kehidupan Briptu Norman dalam kurun waktu tak sampai 1 tahun terakhir ini. Polda Gorontalo tempat ia bernaung sebagai brimob selama ini telah menjatuhkan sanksi pemecatan dengan embel-embel tidak hormat. Reputasi kepolisiannya merosot tajam akibat tindakan indisipliner, mangkir selama 85 hari.

Sungguh ironis. Masih kuat dalam ingatan saya bagaimana ia dielu-elukan oleh masyarakat dari berbagai lapisan atas "prestasinya" berjoget dan menyanyikan lagu Chaiya Chaiya, menirukan Shahrukh Khan, artis idolanya. Tak kurang dari Kapolri sebagai atasan tertingginya memberikan apresiasi kepadanya.

Entah kenapa, semuanya berbalik 180 derajat. Bila semula ia ia mendapat kehormatan berkeliling menampilkan kepiawaiannya dengan dikawal oleh atasannya, namun kemudian ia dijemput paksa dan digiring kembali ke Gorontalo bak teroris berbahaya.

Yah, itulah hidup. Bak sebuah roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Sayangnya, bagi Norman, mungkin roda itu berputar terlalu cepat kala ia di atas.

Kini, tanpa embel-embel Briptu di depan namanya, akankah ia mampu bertahan sebagai seorang artis penyanyi sebagaimana yang ia pilih saat ini? (mp2)

READ MORE - Briptu Norman Dipecat dengan Tidak Hormat
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Butuh Jasa Ini ?